Desaku Yang Kucinta

Tidak bisa dipungkiri memang sekarang adalah era kapitalis, bukan hanya di perkotaan namun juga di desa-desa. Seperti halnya di kampung halaman saya, omongan bijak orang miskin akan didengar seperti kentut, dan kentut orang kaya akan terdengar sangat bijak. Pekewuh yang salah tempat, sopan santun palsu, belajar agama tapi tidak pernah diamalkan dan "kebudayaan" hanya melulu soal pagelaran bukan soal attitude. Itulah keadaan disini.

...
Sebelum kita lanjut, ijinkan saya memutar lagu FSTVLST dahulu, untuk detoksifikasi kekesalan dalam diri saya.
...

Mari kita lanjutkan tulisan diatas yang saya tulis pada Desember 2023, dan sekarang April 2025. 

Terus terang, bagi saya yang memiliki ego yang lumayan besar, menjadi bawahan orang lain itu agak melelahkan. Bukan karena saya kasta atas, atau apa, tapi jiwa kiri saya memang tidak menerima sistem feodal pada masyarakat desa saya sekarang. Sistem feodal yang saya maksud bukan the real feodalism ya, tapi kiasan untuk sistem masyarakat yang selalu menganggap bahwa seseorang itu seperti raja, kalau tidak ada beliau musyawarah kita mentah, muspro, tidak bisa diambil kesimpulan. Hal semacam ini yang saya tidak bisa menerimanya, namun saya tidak punya power untuk menentangnya, makanya stress tiba. 

Orang-orang di desa saya memang lebih menghargai orang yang kaya, orang yang punya uang, kapital kuat. Lucunya, ketika kapital kuat ini meminta bantuan atau mengundangi seseorang, seseorang tersebut tetap datang walaupun mungkin ada acara sendiri. Sebaliknya, ketika seseorang yang berkapital lemah katakanlah demikian, mengundangi atau meminta bantuan kapital kuat ini, kapital kuat ini tak segan-segan mangkir dari panggilan. Dan kapital lemah tentu hanya bisa memaklumi. 

Hawa-hawanya desa saya akan segera hancur karena budaya semakin teraniaya, budaya berpikir, budaya menghargai setiap individu terlepas Ia kaya atau miskin. Dibutuhkan pemimpin dengan tangan besi, yang berani mengambil resiko dan super mendominasi masyarakat. 

Terakhir, orang sini ternyata pandai mencari muka, terlihat dermawan kalau di lihat orang, dibelakang ya pelit. Suka menasihati orang lain jika disaksikan orang banyak, kalau satu lawan satu ya ga peduli. Remuk jum, Indonesia bagian dari desa saya kalau kata Mbah Nun, tapi desa saya aja sudah remuk, maka wajarlah keadaan nasional juga ambyar. 

Kalau rakyat berbuat dosa, karena keadaan terhimpit, karena kebijakan pemerintah, maka pemerintah pun mendapatkan cipratan dosanya kan?

Comments

Popular posts from this blog

Tokoh Masyarakat

Tokoh Masyarakat 2

Catatan Perang