Posts

Tuhan Maha Asyik

Akhir 2018, aku masuk dalam lingkaran pengkhianatan. Pilihannya hanya mengkhianati atau dikhianati. Dengan lantangnya aku menjawab "aku memilih untuk mengkhianati" Baru satu orang yang aku khianati, dan itupun tidak sepenuh hati, lingkungan gantian mengkhianatiku. Haha Aku pasti diketawain sama Allah dan para malaikat. Tuhan memang maha asyik.. bercanda gitu lho.. Haha Tapi iya, mungkin itu yang membuat aku dikhianati teman, kekasih dan partner bisnis. Sekarang seakan-akan aku dikerumuni mereka, tentu saja sambil mentertawakanku. Jujur saja, aku merasa dibecandai, jadi aku tetap dan bahkan menjadi lebih cinta sama Allah. Masyaallah. Penglihatanku jadi lebih luas.. beda dengan kemarin, sebelum aku sadar kalau aku cuma dibercandai. Kemarin aku sampai sering menyanyikan.. Nyala tak akan terlalu lama Padam akan datang lebih segera Jika harus mati maka matilah Jika harus kini maka sekaranglah Semoga matimu mati muda Semoga matiku mati muda Pasti Allah, Malaikat, dan Ala...

Glupratan Sperma

Apa alasanku untuk aku tidak terima atas kelakuanmu?. Tidak ada. Kamu memang mbajing, dan aku tahu efek samping mengenal orang mbajing. Mulut memang senjata paling ampuh. Pemantiknya adalah otak. Penggeraknya adalah hati. Hatimu sudah kotor, otakmu sudah penuh dengan glupratan-glupratan sperma. Begitu juga dengan ucapanmu, suaramu yang selalu membangkitkan gairah. Semua itu kamu gunakan untuk menghasut orang-orang yang tipis imannya. Astagfirullah... Orang seperti ini yang pada zaman Nabi Sulaiman dibasmi bersamaan dengan pembasmian para setan dan jin yang 'nakal'. Well, apa yang kita cari? Kebahagiaan? Kenikmatan? Atau surga? "Surga" katamu Surga apa yang kamu maksud?, kenikmatan surgawi yang kamu lakukan didunia dengan manusia-manusia yang sama denganmu? Iya?! Wooooaaaa goblok sekali.. kalau kamu tau kapan mati aja nggak apa-apa, terserah, tau waktu kapan berhenti mbajing, dan kapan harus berubah.. tapi kamu kan nggak tau kapan kamu mati.. bisa saja sete...

Pancen Asu

Entah yang asu si rektor atau sopirnya. 21 Januari 2019 Diantara pagar bumi tua dan bangunan sekolah tetangga, jalan beraspal dengan trotoar rumput, diujung tempat sampah belakang kantin sekolah itu, didepan warung soto baru, belakang kampus tua yang menjijikkan, Aku keluar dari halaman kampus dengan gagah mengendarai Vega R dan dengan mengenakan flanel juga topi komando. Motorku ku gas perlahan karena itu baru pukul sembilan. Matahari sedang nges-ngesnya , semerbak bau soto yang silih berganti dengan bau sampah. Eee ancuk, momen yang aku rasa sangat mbajing terjadi. Baru saja aku sampai dilajur kiri jalan kecil itu, aku kaget oleh klakson mobil hitam berkaca bening. Aku kenal siapa yang didalamnya, rektorku. Wajahnya murung, atau kesal. Bersandar diantara kursi mobil dan pintu kiri, dahinya berkerut melihat depan. Kukira mobil itu mengklaksonku, tapi ternyata.. Ibu-ibu bersepeda butut dengan kronjot bambu terpaksa turun dari sepedanya, dan minggir memasuki rerumputan pinggir jal...

Kelana #1

Inilah fase-fase perkembangan itu, hujan dibulan Desember, hembusan angin sawah, sore kuning berselimut langit biru muda, aliran air dari petak-petak sawah, jendela yang terbasah oleh hujannya. Lebih dari setahun, dan semoga dua tahun lagi ini akan berakhir sudah, tidak ada lagi geriliawati yang gemar bunga menyebar biji-biji disetiap tempat yang Ia singgahi, hingga setiap usai hujan bunganya bermekaran dimana-mana, walaupun tak beraroma wangi, tapi warnanya bisa menghipnotis siapa saja yang masih normal jiwanya. Satu setengah tahun lalu aku bertemu dengannya disebuah sabana dengan banyak komunitas didalamnya. Aku berjalan melalui jalan yang sudah terverifikasi kebenarannya, namun sayup-sayup kudengar suara perempuan, aku melihatnya dan Ia melihatku. Sialan, sebenarnya aku belum berniat untuk singgah di tikar sederhananya, rencananya diakhir perjalanan ini, tapi Ia sudah memanggilku, apa boleh buat, aku pun meminum teh buatannya. Kami berbincang-bincang, diluar apa yang aku pikirk...

Lihatlah Diri Kita, Kita Sama, Sama-sama Memiliki Perbedaan

Salah satu hal yang menjadikan kita sebagai manusia bermusuhan adalah kita jarang melihat kembali siapa diri kita sendiri, atau  jarang introspeksi diri, dan merasa paling benar. Sering sekali kamu menyuruh orang yang memandangmu sebelah mata untuk berubah, namun kamu pun memandang orang itu dengan sebelah mata. Sering juga kamu menyuruh orang lain untuk tidak menyepelekan tapi impian orang itu kamu anggap hayalan. Tidak jarang kamu menyuruh orang lain untuk tidak merasa paling benar, tapi kamu sendiri selalu menyalahkan yang lain. Juga sering kamu menangis tidak terima saat sekali saja tidak mendapat dukungan dari orang terkasih, namun kamu tidak pernah sekalipun mendukung orang terdekatmu. Pergilah kemanapun kamu mau, gendong sekalian semua sifat patenmu, carilah tempat yang kamu sukai, dan menerimamu, semoga kamu menemukannya. Jika aku, aku akan berpikir, aku ini siapa?, Siapa aku?, Kenapa aku memaksakan kehendakku?, Kenapa aku seperti pemilik nyawanya?, Siapa aku kok somb...

KANCAKU ARTIS

Sikap orang saat sedikit mengenal orang terkenal sebagai teman, ialah merasa bangga. Baru saja Ia mengenal temannya itu saat sudah terkenal, dan merasa bangga, lantas seberapa bangga saya sebagai teman orang terkenal itu sejak orang terkenal itu belum menjadi apa-apa, masih menjadi tumpukan debu dipojok ruangan, masih menjadi papan coretan, hinaan, dan banyak pal-palan disekolah. "Ah mosok? Kamu? Jangan ngaku-ngaku" Kata seorang yang bangga itu setelah mendengar ceritaku. Waduh ya terserah saja, orang teman saya yang terkenal itu sekarang sombong, silahkan saja makan itu perkenalanmu. Saya juga tidak begitu pengen kenal sama orang itu. Kejadian itu malah membuat saya pengen misuh , asu asu Haha kok Kowe ki ngefans berat karo wong koyo ngono ? Enggak, soalnya gini, semua orang itu sama, aku, kamu, dia, dan mereka. Dilahirkan sebagai juara, pemenang sprint melawan jutaan pesaing, dan kita pemenangnya. Mental juara, mental menang seharusnya ada. Kita semua naik level, disaing...

Pemicu Perang

Malam kuselami bergaman kopi Begitu saja kepercayaan kulewati Muram masam mukaku tak peduli Menujumu tak kunjung aku sampai Rasa memiliki yang merabit duka dalam yang mulai menjangkit api bahaya dalam dada mulai merakit Mengarungi samudera merah hati yang sakit 4 November 2018