Lebih dari 5 tahun lalu saya menulis tentang tokoh masyarakat, kalau tidak salah di blog ini juga. Tulisan saya itu berisi tentang kebijaksanaan atau wisdom seorang tokoh masyarakat di kampung saya. Saya mengatakan bahwa mereka hanya mengikuti usulan orang kaya saja, dan usulan orang miskin hanya dijadikan sebagai angin lalu. Kini, saya menjadi tokoh masyarakat. Karena kerangka berpikir saya adalah sosialis maka saya mendengarkan semua usulan warga, tidak cuma yang kaya tapi yang miskin juga. Seperti, ada seorang petani miskin mengusulkan untuk mengukur pH tanah pertanian, bagi saya ini usulan yang brilian, maka saya wujudkan dengan pengadaan pH meter tanah. Dan itu memang terjadi. Namun kita tidak akan berbicara soal kapitalisme dan sosialisme. Kita akan berbicara soal wisdom. Selayaknya tokoh masyarakat kami dituntut untuk bijaksana dalam hal apapun. Bijaksana sebenarnya tidak bisa dibuat-buat, bijaksana adalah anugerah dari Allah SWT. Namun saya rasa bisa dipelajari dan dilatih. Se...
Tidak bisa dipungkiri memang sekarang adalah era kapitalis, bukan hanya di perkotaan namun juga di desa-desa. Seperti halnya di kampung halaman saya, omongan bijak orang miskin akan didengar seperti kentut, dan kentut orang kaya akan terdengar sangat bijak. Pekewuh yang salah tempat, sopan santun palsu, belajar agama tapi tidak pernah diamalkan dan "kebudayaan" hanya melulu soal pagelaran bukan soal attitude. Itulah keadaan disini. ... Sebelum kita lanjut, ijinkan saya memutar lagu FSTVLST dahulu, untuk detoksifikasi kekesalan dalam diri saya. ... Mari kita lanjutkan tulisan diatas yang saya tulis pada Desember 2023, dan sekarang April 2025. Terus terang, bagi saya yang memiliki ego yang lumayan besar, menjadi bawahan orang lain itu agak melelahkan. Bukan karena saya kasta atas, atau apa, tapi jiwa kiri saya memang tidak menerima sistem feodal pada masyarakat desa saya sekarang. Sistem feodal yang saya maksud bukan the real feodalism ya, tapi kiasan untuk sistem masyarakat ...
Berangkat dengan semangat, menanami rumput odot di beberapa tempat di kampung, membuatku berpikir bahwa aku tak akan berhenti sampai sini. Akhirnya aku terus memupuk ambisiku. Membuat kandang, menambah jumlah ternak, dan bangkrut. Semua ternakku kurus dan ku jual murah. Disinilah saya memutuskan untuk benar-benar angkat tangan, berhenti beternak kambing. Good bye my fucking goat. Dari Maret 2021 sampai Juni 2022 waktu yang singkat memang, tapi apalah daya aku bukan anak orang kaya yang nafasnya panjang. Aku harus pergi dari sini untuk menyambung nyawa. Dan ya, ditengah-tengah malam, aku selalu berpikir bagaimana cara menutupi kerugianku. Sekarang aku kembali menjalani kegiatan awal masa kuliah, yaitu menetaskan telur, aku mencoba menetaskan telur aky, yang aku beli seharga Rp3.000 untuk final stock, dan Rp12.000 untuk parent stock. Hari ini hari pertama masukin telur ke mesin (btw aku masih punya sedikit uang untuk beli mesin tetas seharga 600rb jadi ya aku ga bangkrut-bangk...
Comments
Post a Comment