Lebih dari 5 tahun lalu saya menulis tentang tokoh masyarakat, kalau tidak salah di blog ini juga. Tulisan saya itu berisi tentang kebijaksanaan atau wisdom seorang tokoh masyarakat di kampung saya. Saya mengatakan bahwa mereka hanya mengikuti usulan orang kaya saja, dan usulan orang miskin hanya dijadikan sebagai angin lalu. Kini, saya menjadi tokoh masyarakat. Karena kerangka berpikir saya adalah sosialis maka saya mendengarkan semua usulan warga, tidak cuma yang kaya tapi yang miskin juga. Seperti, ada seorang petani miskin mengusulkan untuk mengukur pH tanah pertanian, bagi saya ini usulan yang brilian, maka saya wujudkan dengan pengadaan pH meter tanah. Dan itu memang terjadi. Namun kita tidak akan berbicara soal kapitalisme dan sosialisme. Kita akan berbicara soal wisdom. Selayaknya tokoh masyarakat kami dituntut untuk bijaksana dalam hal apapun. Bijaksana sebenarnya tidak bisa dibuat-buat, bijaksana adalah anugerah dari Allah SWT. Namun saya rasa bisa dipelajari dan dilatih. Se...
Mereka kira mereka adalah pria sejati, berjalan bersama kawan-kawannya, menggunjing musuh dari belakang, meninggalkan kewajibannya dan melanggar peraturan. Tidak kawan, orang-orang seperti itu tidak lebih dari sekedar pecundang. Jangan sampai kamu salah menerjemahkan bahasa kehidupan. Aku akan memberikan penjelasan. Pria sejati itu menyerang tanpa pasukan. Ijen wani!, Dhewe wani!!, Dhewe turah kendel!!. Kalau dalam film itu seperti Takiya Genji lah ya. Karena memang pria sejati bisa membuat lawannya takut walaupun sendiri, beda dengan para pecundang, mereka tidak bisa membuat lawannya takut kalau sendiri, jadi membawa pasukan. Ibarat seekor singa itu lebih berwibawa dibandingkan segerombolan heyna. Begitu juga dengan menggunjing musuh dari belakang, karena mereka tidak berani berucap didepan musuh mereka. Sangat pecundang bukan?. Biasanya orang seperti ini itu banyak ngomong, tapi kalau berpapasan belum tentu berani menatap mata musuhnya. Meninggalkan kewajibannya, say...
Ketika pelabuhan bersandar puluhan bahkan ratusan kapal perang, jalan-jalan dipenuhi tank, disekitar rumah berjejer para tentara bersenjata lengkap, dan ketika di kebunmu tertanam artileri. Langit berubah menjadi kelabu berkat kepulan asap dari ledakan, tanah-tanah berlubang berkat mortar-mortar, dan air memerah oleh darah. Bangunan gedung, rumah dan toko hancur seperti di gaza, mobil-mobil tak dipedulikan pemiliknya dan dimana-mana berserak selongsong peluru. Kamu keluar rumah bermodalkan kewaspadaan dan mata yang tak henti mengawasi sekitar, teriakan tentara menghentikan langkahmu dan kamu diintrogasi, kamu disuruh kembali ke dalam rumah dan kamu patuh. Dengan langkah gemetar seperti tak menapak tanah, kamu memberanikan diri meminta izin kepada para tentara untuk berkunjung ke rumah saudaramu. Dengan tegas tentara itu melarangmu dan memerintahkan kamu untuk kembali ke dalam rumah, dan kamu patuh. Malam pun tiba, salah satu anggota keluargamu yang gadis dipanggil oleh para tentara unt...
Comments
Post a Comment